Saturday, August 25, 2018

Cerpen


Alur-Alur Nikmat_Mu

            Mari berbagi lewat kisah deramatis dan penuh liku yang tertuang lewat kata dan pena. Dan inlah kisahku. Kisah dari seorang gadis  yang penuh dengan kesederhanaan,  yang mempunyai sejuta mimpi masa depan.
     Terlahir sangat mungil hingga dipanggil bayi premature itu bukan suatu pilihan, tetapi itulah ketentuan Tuhan, yang digaris bak warna pelangi untuk anak sepertiku. Aku bukanlah orang yang hebat, begitupun keluargaku. Semuanya terlahir dari kampung yang sangat sederhana. Bahkan, ku pernah mendengarnya, mendengar seseorang menarik kembali masa laluku. Masa lalu yang ingin ku buang kini terulur kembali. Tak mudah menerima itu semua, namun aku juga tidak bisa begitu saja membuangnya. Seperti sobekan kertas yang tinggal ku buang ke tempat sampah. Kadang aku bigung. Kenapa Tuhan melakukannya. Padahal jelas-jelas Tuhan tahu bagimana keadaannya. Seakan Tuhan tak rela melukiskan segurat senyum dihati kami.
     17 Maret’98, tangisan terdengar bising di lorong Rumah Sakit. Ucapan rasa syukur dari seorang Bunda tak dapat tertahankan. Tangis penuh haru saat seorang dokter memberikan jawaban tak dapat terbendung. Itu bukanlah tangisan kesedihan, tetapi inilah tangisan kebahagiaan. Ini yang membuatku belajar, tentang cinta dan pengorbanan Bunda, wanita dengan seribu kecantikan hatinya. Walaupun tumbuh dari keluarga sederhana, keluargaku tak pernah melingkupiku dengan tetesan hujan. Mereka justru membebaskanku tuk berdiri di tengah indahnya kilauan mutiara.
     Mata ini perlahan membuka, aku tak tahu dimana ini. Ditempat yang dikelilingi ruang transparan yang amat kecil dengan beberapa selang-selang oksigen, bagai menjirat tubuh ini. Hari berjalan, mereka tak kunjung melepaskanku. Hilir mudik orang menatapku, namun hanya dibalik tabung. Sungguh mereka acuh. Hingga  ke 22 hari gerombolan orang datang. Aku tak tahu siapa mereka? Dan mau apa mereka? Perlahan tutup ruangan dibukanya oleh seseorang yang mengenakan pakaian serba putih. Gendongan ini berpindah hingga aku dibawa ke tempat yang begitu jauh. Di kampung, dan sampailah digubuk sederhana. Ku disambut banyak orang, dimana ini? Apa ini rumah? Lalu rumah siapa? Apa ini miliknya? Milik seorang wanita dengan seribu kecantikannya. Tidak salah, disini rumah Bunda begitu seharusnya aku memanggilnya. Disini sangat nyaman, sangat hangat dengan cinta yang mereka berikan padaku.
     Satu, dua dan tiba saatnya aku berumur 5 tahun. Duka melingkupi kami, kakak itulah sebutanku untuknya. Menghadap sang pencipta. Aku kecil dengan kepolosannya tidak mengerti akan hal itu, yang aku tahu hanyalah pergi ke suatu tempat yang sangat jauh. Jogja itu kata Bunda.
     Seiring berjalannya waktu Ayah dan Bunda pelan-pelan memberikan pengertian padaku. Bahwa kini tak ada lagi kakakku, tidak ada lagi yang selalu ingin tahu keadaanku, dan mendekapku dengan kelembutannya.
     Sejak itu juga rasa bersalah berkecamuk dihati ini. Hanya karena penolakanku untuk digendongnya. Hal sepele, tetapi kenapa harus menolak? Belum usai linangan ini basahi kami dua tahun setelah kepergian kakak, Bude menyusul. Dalam sekejap duka rontokkan linangan kami. Bude dengan sejuta kebaikannya beristirahat terakhir dan untuk selamanya. Beberapa bulan keluargaku dikampung tiba. Lebih tepatnya kakek dan nenek. Secerca senyum hiasi kami.
     Tak lama setelah itu Desember 2007 kami diberi kabar. Kakek sakit. Kelas 2 SD semester 1 aku dan keluarga berlibur ke rumah kakek, yang tak lain adalah kampung halamanku. Satu minggu berada disana aku dan keluarga harus pulang, aku harus sekolah itu kata Ayah. Entah mengapa kakek seolah tak rela dengan kepulanganku. Berulang kali beliau mengatakan “jangan pulang dulu, tunggu satu atau dua hari lagi”. “Ada apa? Apa ini hanya butir-butir kerinduan? Atau apa?” Hati ini selau bertanya-tanya. Sudahlah Ku tak ingin berfikir terlalu jauh.
     Satu hari dirumah, Ayah mendapatkan kabar, lagi-lagi duka cita. Firasat itu ternyata benar. Dan ucapan itu, ucapan terakhir darinya, Dan tentunya ribuan kenangan mengalir bersamaan dengan butiran-butiran duka mengalir tanpa arah pasti.
     Ketiga kejadian itu tak berujung disana. Karena apa? Hanya cerita singkat kehadiran kakak, yang juga tinggalkan kami semua. Dan kesehatan mata yang semakin memburuk. Hingga pada titik aku harus mengulang kelas 3 SD. Rasa bersalah pada orang tua mungkin yang saat itu mencabik-cabik hati ini.
     Terkadang lamuan membisukanku. Terbang bebas dan bermuara pada titik memori itu. Linangan air mata? Jelas tak dapat terbendung, juga emosi dan perasaan yang bertanya-tanya.
“Kenapa Tuhan tak adil? Menghilangkan mereka dari hidupku? Kenapa Tuhan tak adil? Ciptakan aku berbeda dengan mereka? Kenapa aku berbeda? Kenapa aku tak sama? Saudara tak satupun tersisa.” Bahkan, selalu berontak itu jadi makananku. Hari berjalan, remaja membuatku dikelilingi banyak sahabat. Sahabat muda-mudi, sahabat karib, dan tak tertinggal sahabat kelas B. Dan kini, sudah berapa taman dan jurang memberiku uluran dan tamparan, sungguh tak terhitung. Pengertian demi pengertian pun tergenggam. Mengerti bahwa tunggal tak berarti sendiri, bahwa tunggal tak berarti sepi. Seperti bulan bersinar dengan secerca cahaya. Namun, dikelilingi  oleh sejuta binar bintang-bintang. Dan satu lagi, premature? Kenapa harus malu? Premature maupun normal toh sekarang sama saja kan? Normal juga bukan sebagai pencapaian kan? Tunggal? Nggak punya saudara? Kenapa harus marah?

No comments:

Post a Comment

Jodoh

Bismillahirrahmanirrahiim.. J odoh dan perjodohan yang dilakukan oleh dua belah pihak orang tua.. Masih ing...