Alur-Alur Nikmat_Mu
Mari
berbagi lewat kisah deramatis dan penuh liku yang tertuang lewat kata dan pena.
Dan inlah kisahku. Kisah dari seorang gadis yang penuh dengan
kesederhanaan, yang mempunyai sejuta mimpi masa depan.
Terlahir
sangat mungil hingga dipanggil bayi premature itu bukan suatu pilihan, tetapi
itulah ketentuan Tuhan, yang digaris bak warna pelangi untuk anak sepertiku.
Aku bukanlah orang yang hebat, begitupun keluargaku. Semuanya terlahir dari
kampung yang sangat sederhana. Bahkan, ku pernah mendengarnya, mendengar
seseorang menarik kembali masa laluku. Masa lalu yang ingin ku buang kini
terulur kembali. Tak mudah menerima itu semua, namun aku juga tidak bisa begitu
saja membuangnya. Seperti sobekan kertas yang tinggal ku buang ke tempat
sampah. Kadang aku bigung. Kenapa Tuhan melakukannya. Padahal jelas-jelas Tuhan
tahu bagimana keadaannya. Seakan Tuhan tak rela melukiskan segurat senyum
dihati kami.
17
Maret’98, tangisan terdengar bising di lorong Rumah Sakit. Ucapan rasa syukur
dari seorang Bunda tak dapat tertahankan. Tangis penuh haru saat seorang dokter
memberikan jawaban tak dapat terbendung. Itu bukanlah tangisan kesedihan,
tetapi inilah tangisan kebahagiaan. Ini yang membuatku belajar, tentang cinta
dan pengorbanan Bunda, wanita dengan seribu kecantikan hatinya. Walaupun tumbuh
dari keluarga sederhana, keluargaku tak pernah melingkupiku dengan tetesan
hujan. Mereka justru membebaskanku tuk berdiri di tengah indahnya kilauan
mutiara.
Mata ini
perlahan membuka, aku tak tahu dimana ini. Ditempat yang dikelilingi ruang
transparan yang amat kecil dengan beberapa selang-selang oksigen, bagai
menjirat tubuh ini. Hari berjalan, mereka tak kunjung melepaskanku. Hilir mudik
orang menatapku, namun hanya dibalik tabung. Sungguh mereka acuh. Hingga ke 22 hari gerombolan orang datang. Aku tak
tahu siapa mereka? Dan mau apa mereka? Perlahan tutup ruangan dibukanya oleh
seseorang yang mengenakan pakaian serba putih. Gendongan ini berpindah hingga
aku dibawa ke tempat yang begitu jauh. Di kampung, dan sampailah digubuk sederhana.
Ku disambut banyak orang, dimana ini? Apa ini rumah? Lalu rumah siapa? Apa ini
miliknya? Milik seorang wanita dengan seribu kecantikannya. Tidak salah, disini
rumah Bunda begitu seharusnya aku memanggilnya. Disini sangat nyaman, sangat
hangat dengan cinta yang mereka berikan padaku.
Satu,
dua dan tiba saatnya aku berumur 5 tahun. Duka melingkupi kami, kakak itulah
sebutanku untuknya. Menghadap sang pencipta. Aku kecil dengan kepolosannya
tidak mengerti akan hal itu, yang aku tahu hanyalah pergi ke suatu tempat yang
sangat jauh. Jogja itu kata Bunda.
Seiring
berjalannya waktu Ayah dan Bunda pelan-pelan memberikan pengertian padaku.
Bahwa kini tak ada lagi kakakku, tidak ada lagi yang selalu ingin tahu
keadaanku, dan mendekapku dengan kelembutannya.
Sejak
itu juga rasa bersalah berkecamuk dihati ini. Hanya karena penolakanku untuk
digendongnya. Hal sepele, tetapi kenapa harus menolak? Belum usai linangan ini
basahi kami dua tahun setelah kepergian kakak, Bude menyusul. Dalam sekejap
duka rontokkan linangan kami. Bude dengan sejuta kebaikannya beristirahat
terakhir dan untuk selamanya. Beberapa bulan keluargaku dikampung tiba. Lebih
tepatnya kakek dan nenek. Secerca senyum hiasi kami.
Tak lama
setelah itu Desember 2007 kami diberi kabar. Kakek sakit. Kelas 2 SD semester 1
aku dan keluarga berlibur ke rumah kakek, yang tak lain adalah kampung
halamanku. Satu minggu berada disana aku dan keluarga harus pulang, aku harus
sekolah itu kata Ayah. Entah mengapa kakek seolah tak rela dengan kepulanganku.
Berulang kali beliau mengatakan “jangan pulang dulu, tunggu satu atau dua hari
lagi”. “Ada apa? Apa ini hanya butir-butir kerinduan? Atau apa?” Hati ini selau
bertanya-tanya. Sudahlah Ku tak ingin berfikir terlalu jauh.
Satu
hari dirumah, Ayah mendapatkan kabar, lagi-lagi duka cita. Firasat
itu ternyata benar. Dan ucapan itu, ucapan terakhir darinya, Dan tentunya
ribuan kenangan mengalir bersamaan dengan butiran-butiran duka mengalir tanpa
arah pasti.
Ketiga
kejadian itu tak berujung disana. Karena apa? Hanya cerita singkat kehadiran
kakak, yang juga tinggalkan kami semua. Dan kesehatan mata yang semakin
memburuk. Hingga pada titik aku harus mengulang kelas 3 SD. Rasa bersalah pada
orang tua mungkin yang saat itu mencabik-cabik hati ini.
Terkadang
lamuan membisukanku. Terbang bebas dan bermuara pada titik memori itu. Linangan
air mata? Jelas tak dapat terbendung, juga emosi dan perasaan yang
bertanya-tanya.
“Kenapa Tuhan tak adil? Menghilangkan mereka dari
hidupku? Kenapa Tuhan tak adil? Ciptakan aku berbeda dengan mereka? Kenapa aku
berbeda? Kenapa aku tak sama? Saudara tak satupun tersisa.” Bahkan, selalu
berontak itu jadi makananku. Hari berjalan, remaja membuatku dikelilingi banyak
sahabat. Sahabat muda-mudi, sahabat karib, dan tak tertinggal sahabat kelas B.
Dan kini, sudah berapa taman dan jurang memberiku uluran dan tamparan, sungguh
tak terhitung. Pengertian demi pengertian pun tergenggam. Mengerti bahwa
tunggal tak berarti sendiri, bahwa tunggal tak berarti sepi. Seperti bulan
bersinar dengan secerca cahaya. Namun, dikelilingi oleh sejuta binar bintang-bintang. Dan satu
lagi, premature? Kenapa harus malu? Premature maupun normal toh sekarang sama
saja kan? Normal juga bukan sebagai pencapaian kan? Tunggal? Nggak punya
saudara? Kenapa harus marah?
No comments:
Post a Comment