Terhenyak
aku oleh setiap sifat-sifat anak cucu adam, berbagai ras berbeda pula arah
mimpi dan kodratnya. Mungkin seorang anak ada yang hanya ingin permen merah
jambu milik temannya suatu hari nanti, ada juga seorang anak yang rela
diam-diam melukai nilai kepercayaan hanya untuk memiliki satu dua teman karena
sifatnya yang pendiam. Saya tidak menyalahkan seorang anak dengan sifatnya
karena memang itu adalah kodrat dari Ilahi. Namun yang saya sayangkan mungkin
cara saya, cara kami, cara lingkungannya yang pelan tetapi pasti mendidiknya
dengan bicara, penglihatan maupun pencernaan yang belum sanggup ia terima.
Seorang anak kecil itu tidak salah jika memang melakukan hal buruk dari
peniruannya terhadap orang dewasa karena dalam mencerna ia akan selalu melihat
sampul merah jambu tanpa mau mengais lembar demi lembar materi didalam buku.
Seorang guru pernah mengucapkan pada murid-muridnya “janganlah engkau mengatakan hal buruk walau hanya sekecil guyonanan
itu akan membekas pada batinnya.” Si murid mencernanya hingga ia dewasa
karena dalam pembelajaran yang tidak tertera pada buku pelajaran tersebut
umurnya masih belasan, mungkin belum cukup jika ia bisa dibilang seseorang yang
akan mendengarkannya namun nyatanya kata-kata sederhana itu membekas, dan
membentuk pribadi kecilnya. Selama ini bahkan dengan kata-kata itu ia tidak
pernah memposisikan dirinya seorang anak dan ucapan-ucapan gurunya tersebut
adalah piwulang untuk orang tuanya. Namun sebaliknya, ia masih sama sebagai
anak namun ia selalu percaya kata-kata positif akan mengubah jati diri seorang
anak tersebut. Ah, pengertiannya cukup rumit namun dia mengerti tanpa harus
mendefinisi.
“Pujilah anak itu pintar walaupun apa
yang dikerjakannya tidak seberapa bagi kita. Puji dia dengan kata-kata yang
baik, puji dia maka pujian itu kelak yang akan membekas dilubuk hatinya
terdalam.
”
Saya
kagum dengan kata-kata berikutnya, pelan-pelan saya terapkan pada adik-adik
sepupu saya, walaupun kesannya sangat sederhana namun nyatanya benar.
Bahkan
waktu si kecil menciptakan mainannya sendiri dengan bateri dan hari berikutnya
si kecil bersemangat sekali membuat mainannya kembali tetapi dengan model yang
berbeda katanya lebih canggih. Si kecil girang bukan kepalang saat
menunjukkannya padaku.
♀:
Lagi ngapai dek?
♂:
Lagi buat mainan mbak, bagus nggak?
♀:
Bagus, kamu pinter buatnya, mbak aja nggak bisa.
No comments:
Post a Comment